√ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis – Jenis Terlengkap

Diposting pada
√ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis – Jenis Terlengkap
5 (100%) 13 vote[s]

√ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis – Jenis Terlengkap Hai sobat sarjanaekonomi.co.id jumpa lagi dalam artikel kesayangan Anda. Pada pembahasan kali ini, akan membahas mengenai Dividen. Untuk lebih jelasnya mari simak pembahasannya secara lengkap di bawah ini.

 

√ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis - Jenis Terlengkap
√ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis – Jenis Terlengkap

 

Pengertian Dividen

 

Dividen merupakan suatu pembagian laba dari perusahaan yang diberikan kepada para pemegang saham sesuai dengan persentase kepemilikannya (besarnya saham yang dimiliki oleh para pemegang saham).

Pembagian ini juga akan mengurangi jumlah laba ditahan dan kas yang tersedia bagi perusahaan, namun distribusi suatu keuntungan kepada para pemilik memang merupakan tujuan utama dari sebuah bisnis.

Jumlah dividen yang akan dibagikan dapat diusulkan oleh Dewan Direksi dan dapat disetujui di dalam rapat umum pemegang saham.

 

 

Pengertian Dividen Secara Khusus

 

  1. Deviden ialah sebuah hasil bagi pendapatan perusahaan secara langsung ataupun tidak dengan bentuk dan nama apapun.
  2. Deviden yaitu salah satu payback yang disebabkan jumlah likuidasi lebih besar dibanding jumlah modal yang ditanamkan.
  3. Deviden yakni beberapa pembagian kelebihan atas saham (bonus) yang dijalankan tanpa melalui setoran. Contoh dari saham bonus yaitu dari kapitalisasi agio saham.
  4. Deviden merupakan salah satu pembagian pendapatan dengan bentuk saham.
  5. Proses pencatatan adanya pada peningkatan modal yang dilakukan tanpa adanya penanaman modal tambahan.
  6. Adanya jumlah saham yang jauh lebih besar dibanding jumlah penanaman sahamnya yang kemudian dimiliki para pemilik saham yang disebabkan pembelian kembali akan saham tersebut.
  7. Payback yang dapat dilakukan perusahaan kepada para investor dari modal yang ditanamkan apabila terdapat keuntungan perusahaan. Tidak termasuk pada deviden bila payback dapat terjadi bila dilakukan pengurangan modal utama yang akan diberlakukan secara sah.
  8. Pembayaran dari sebuah perusahaan yang berkaitan dengan tanda-tanda pendapatan yang diperoleh. Selain itu deviden ini juga termasuk yang diperoleh dari penebusan tanda pendapatan tersebut.
  9. Bagian dari keuntungan yang berkaitan dengan kepemilikan obligasi.
  10. Bagian keuntungan yang dapat diperoleh pemegang polis.
  11. Profit Sharing atau SHU yang dapat diterima setiap anggota (bila berbentuk koperasi).
  12. Pengeluaran pada sebuah perusahaan yang dipergunakan untuk para pemilik saham dan dibebankan menjadi biaya perusahaan.

 

 

Syarat Dividen

 

1. Saldo Laba Ditahan Mencukupi
Sama seperti dividen tunai, pada pembayaran dividen saham juga berasal dari laba ditahan perusahaan. Bedanya, divide saham akan mengeluarkan uang tunai untuk dibayarkan kepada pemegang saham.

Sedangkan dividen tunai ini dapat menggunakan kas, tidak ada arus kas keluar. Yang ada hanya perpindahan akun laba ditahannya saja perusahaan menjadi modal atau ekuitas saham.

 

2. Disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Sama dengan dividen tunai, pembayaran dalam suatu bentuk dividen saham ini harus memperoleh persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

 

3. Harga Teoritis Saham Sesuai dengan Peraturan yang Ada
Di Indonesia, ada Bursa Efek Indonesia yang dapat mengatur mengenai penerbitan saham baru atau perusahaan yang akan membagikan dividen saham.

Menurut aturan bursa yang ada, harga teoritis dalam saham hasil dari adanya penambahan saham baru paling tidak memiliki nilai Rp 100.

Kecuali pada suatu perusahaan bisa memberikan keyakinan kepada bursa efek bahwa apabila perusahaan tidak membagika dividen saham bisa berpengaruh buruk terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

 

 

Prosedur Pembayaran Diveden

 

1. Tanggal Pengumuman

Tanggal pengumuman atau declaration date yaitu salaj satu jenis dari tanggal yang secara formal diumumkan oleh emiten tentang suatu bentuk dan besarnya serta jadwal pembayaran dividen yang akan dilakukan.

Pengumuman ini umumnya seringkali untuk pembagian pada dividen reguler. Isi pengumuman tersebut memberitahukan berbagai hal-hal yang penting seperti tanggal pencatatan dan tanggal pembayaran serta besarnya dividen kas per lembarnya.

 

2. Tanggal Pencatatan

Tanggal pencatatan atau date of record merupakan salah satu tanggal yang mana perusahaan dapat melaksanakan pencatatan nama para pemegang saham.

Pemegang saham yang telah terdaftar akan diberikan hak sedangkan pemegang saham yang tidak terdaftar tidak diberikan hak untuk mendapatkan dividen.

 

3. Tanggal Cum-Dividend

Tanggal cum-dividend merupakan salah satu tanggal yang mana dalam perdagangan saham sudah tidak melekat lagi hak untuk mendapatkan dividen.

Jadi jika para investor membeli saham ketika tanggal ini atau setelahnya, maka para investor tersebut tidak akan mendapatkan namanya untuk mendapatkan dividen.

 

4. Tanggal Ex-Dividend

Tanggal Ex-Dividend ialah salah satu tanggal dimana pada perdagangan saham sudah tidak melekat lagi hak untuk mendapatkan dividen.

Jadi apabila para investor membeli saham pada tanggal ini atau sesudahnya, maka para investor tersebut tidak dapat mendaftarkan namanya untuk mendapatkan dividen.

 

5. Tanggal Pembayaran

Tanggal pembayaran atau payment date merupakan sebuah tanggal yang mana pada pembayaran dividen terhadap suatu perusahaan kepada para pemegang saham yang sudah mempunyai hak atas dividen.

Jadi di tanggal tersebut, para investor ini telah dapat mengambil dividen yang sesuai dengan bentuk dividen yang sudah diumumkan oleh sebuah emiten apakah dividen tunai atau dividen saham.

 

 

Teori Dividen

 

1. Teori Dividen Tidak Relevan

Menurut Modiglani dan Miller, nilai pada sebuah perusahaan tidak ditentukan dari besar kecilnya Dividend Payout Ratio, tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak dan kelas resiko perusahaan.

Dengan kata lain, kemampuan sebuah perusahaan dalam menghasilkan laba dari asset perusahaan ialah faktor penentu nilai sebuah perusahaan tersebut.

 

2. Teori The Bird in The Hand

Menurut Linter dan Gordon, ketika Dividend Payout menjadi rendah maka biaya modal sendiri perusahaan akan menjadi meningkat. Hal ini disebabkan karena para investor lebih memilih dividen ketimbang capital gains.

 

3. Teori Perbedaan Pajak

Teori kebijakan dividen menurut Litzenberger dan Ramaswamy, yakni pajak yang diberlakukan terhadap dividen dan capital gains.

Namun, para investor akan jauh lebih menyukai capital gains karena pemegang saham dapat menunda pembayaran pajak.

 

4. Teori Signaling Hypothesis

Ada sebuah bukti empiris yang menyebutkan bahwa jika ada kenaikan dividen maka akan diiringi dengan sebuah kenaikan harga saham.

Begitu juga dengan sebaliknya ini akan menjadi alasan lain mengapa para investor lebih suka dividen ketimbang capital gains.

 

5. Teori Clientele Effect

Menurut teori ini, para pemegang saham mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap kebijakan dividen sebuah perusahaan.

Dividend Payout Ratio yang tinggi jauh lebih disukai oleh para investor yang butuh penghasilan saat ini. Sedangkan para investor yang tidak begitu butuh uang saat ini jauh lebih memilih jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

 

 

Tujuan Pembayaran Dividen

 

  • Meningkatkan suatu kemakmuran bagi para pemegang saham. Sebab, tingginya dividen yang akan diberikan dan dapat mempengaruhi harga saham suatu perusahaan.
  • Menunjukkan sebuah likuiditas perusahaan. Dengan membagikan dividen, perusahaan ini seolah-olah menunjukkan suatu kemampuannya dalam mengatasi gejolak ekonomi, serta menunjukkan hasil nyata kepada para investor.
  • Memenuhi sebuah kebutuhan para pemegang saham. Dividen ini biasanya digunakan oleh para pemegang saham untuk dapat memenuhi kepentingan konsumsi.
  • Dividen ini bisa digunakan sebagai alat berkomunikasi diantara para manajer dan para pemegang saham.

 

 

Kebijakan Dividen

 

Manajemen mempunyai 2 kebijakan perlakuan terhadap sebuah penghasilan bersih sesudah pajak (earning after tax) perusahaan yaitu sebagai berikut :

  • Dibagikan kepada para pihak pemegang saham dalam bentuk dividen.
  • Diinvestasikan kembali ke beberapa perusahaan sebagai laba ditahan (retained earning).

Oleh karena itu, pihak manajemen juga harus membuat kebijakan (dividen policy) tentang besarnya EAT yang akan dibagikan sebagai deviden.

Apabila suatu perusahaan membagi dalam bentuk dividen, maka akan dapat mengurangi sumber dana (kas) dari keuntungan perusahaan.

Apabila perusahaan ini tidak membagikan sebuah keuntungan (laba) nya sebagai deviden, maka akan dapat memperbesar sumber dana intern yang akan dapat meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mengembangkan sebuah perusahaan.

 

Presentase deviden yang dibagi dari EAR disebut sebagai Deviden Payout Ratio (DPR).

 

DPR = Dividen yang dibagi / EAT

 

Presentasi laba ditahan dari EAT yakni 1 – DPR

 

 

Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

 

1. Likuiditas Perusahaan
Likuiditas suatu perusahaan yang termasuk faktor paling penting yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil sebuah keputusan dalam menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham.

Untuk itu, semakin kuatnya posisi likuiditas dari suatu perusahaan maka akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen.

Ini berarti, semakin kuat posisi dari likuiditas suatu perusahaan terhadap prospek sebuah kebutuhan dana di waktu yang akan datang, maka akan semakin tinggi rasio pembayaran dividennya.

 

2. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka akan semakin besar kebutuhan dana untuk dapat membiayai perusahaan tersebut.

Semakin besar suatu kebutuhan dana waktu yang akan datang untuk membiayai sebuah pertumbuhan, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk dapat menahan pendapatannya daripada dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham dengan mengingat suatu batasan biayanya.

 

3. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Hutang
Jika suatu perusahaan menetapkan bahwa pada pelunasan utang akan diambilkan dari laba ditahan, maka suatu perusahaan tersebut harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut.

Ini berarti bahwa hanya sebagian kecil dari sebuah pendapatan (earnings) yang bisa dibayarkan sebagai dividen, atau dengan kata lain suatu perusahaan harus menetapkan dividend payout ratio yang rendah.

 

4. Pengawasan Terhadap Perusahaan Dana Berasal
Ada perusahaan yang hanya membiayai ekspansinya saja dengan dana yang berasal dari suatu sumber intern saja.

Kebijakan tersebut dapat dijalankan atas dasar pertimbangan bahwa jika ekspansinya dapat dibiayai dengan dana yang berasal dari suatu hasil penjualan saham baru akan melemahkan kontrol dari kelompok dominan dalam perusahaan.

 

5. Peluang Ke Pasar Modal
Suatu perusahaan yang besar dan telah berjalan dengan baik, memiliki sebuah catatan profitabilitas dan stabilitas data, maka perusahaan tersebut akan memiliki suatu peluang besar untuk masuk ke salah satu pasar modal dan bentuk pembiayaan eksternal lainnya.

Kemampuan perusahaan untuk dapat menaikkan modalnya atau dana pinjaman dari pasar modal akan teratas sehingga sebuah perusahaan seperti ini harus juga menahan lebih banyak laba untuk membiayai operasinya.

 

 

Keuntungan Dividen

 

Keuntungan Bagi Pemegang Saham

 

  • Jumlah saham yang dimiliki juga akan bertambah. Tanpa adanya pengeluaran (walaupun sebenarnya nilai investasi dan persentase dari kepemilikan saham tidak akan berubah, efeknya mungkin mirip dengan stock split).
  • Tidak ada pajak yang harus dibayarkan dengan menerima dividen saham dari suatu perusahaan.

 

Keuntungan Bagi Perusahaan

 

  • Pembagian dividen saham membuat salah satu perusahaan bisa menyimpan laba dan kas perusahaan. Dana tersebut bisa digunakan perusahaan untuk suatu tujuan yang lain. Seperti pengembangan usaha, pembayaran utang yang akan segera jatuh tempo atau digunakan untuk pembayaran hal yang lain.
  • Struktur modal suatu perusahaan jauh lebih kuat. Dividen saham ini berasal dari pembagian laba ditahan, dengan cara mememindahkan sebuah akun laba ditahan ke pos akun ekuitas saham biasa. Maka jumlah ekuitas atau modal yang akan disetor perusahaan akan meningkat. Ujungnya struktur modal suatu perusahaan akan jauh lebih kuat.
  • Likuiditas dalam perdagangan saham akan meningkat. Pembagian dividen saham ini juga akan membuat jumlah saham perusahaan yang beredar akan bertambah. Jumlah pada saham yang bertambah ini, secara teori akan membuat harga saham tersebut menjadi menurun. Harga saham yang murah akan dapat menarik investor lain dalam membeli saham tersebut dan pada perdagangan saham perusahaanpun akan semakin likuid. Kapitalisasi pasar juga tidak akan berubah. Mirip seperti pada perusahaan yang akan melakukan stock split.
  • Kondisi keuangan yang tidak akan terganggu. Kondisi pada arus kas ini tidak akan terganggu karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan kas tunai untuk dapat membayar dividen.

 

 

Jenis – Jenis Dividen

 

1. Cash Dividend
Cash devidend atau deviden kas merupakan salah satu jenis dari deviden yang pembayarannya dalam bentuk uang tunai.

Umumnya jenis cash devidend jauh lebih banyak disenangi oleh para pemegang saham dan lebih banyak juga dipakai perseroan jika dibandingkan dengan jenis deviden lainnya.

 

2. Stock Dividend
Stock Dividend atau deviden saham merupakan sebuah jenis deviden yang pembayarannya dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai.

Pembayaran stock dividend ini harus disarankan adanya sebuah laba atau surplus yang disediakan, dengan pembayaran saham ini maka saham yang beredara akan meningkat.

Tetapi pembayaran pada jenis ini tidak akan merubah posisi suatu likuiditas perusahaan karena yang akan dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas suatu perusahaan.

 

3. Property Dividend
Property Dividend atau deviden barang merupakan suatu jenis deviden yang pembayarannya dalam bentuk barang atau aktiva selain kas.

Dalam deviden barang ini yang bisa dibagi-bagi dalam suatu juga berbagai bentuk barang atau bagian-bagian homogeny dan juga penyerahannya kepada pemegang saham yang tidak akan mengganggu kelanjutan perusahaan atau kontinuitas.

 

4. Scrip Dividend
Scrip Dividend atau deviden hutang merupakan salah satu bentuk deviden yang pembayarannya berupa surat (scrip) janji hutang.

Suatu perseroan juga akan membayar jumlah tertentu dan pada waktu tertentu, yang dapat disesuaikan dengan apa yang dicantumkan dalam scrip tersebut.

Pembayaran pada jenis dividen ini akan menyebabkan perseroan dapat mempunyai hutang jangka pendek terhadap para pemegang scrip.

 

5. Luquidating Dividend
Luquidating dividend atau deviden likuiditas merupakan sala satu jenis deviden yang pembagiannya didasarkan pada pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan pada keuntungan yang diperoleh perusahaan.

 

6. Dividen Interim (Interim Dividend)
Dividen interim yakni salah satu dividen yang diumumkan serta dibayarkan sebelum suatu perusahaan selesai membukukan keuntungan tahunan.

 

 

Macam Dividen Berdasarkan Cara Perhitungan

 

  • Dividend Payout Ratio (DPR)

Cara penghitungannya yaitu dengan menghitung hasil dari persentase dividen terhadap laba bersih perusahaan.

Salah satu emiten yang juga mampu memberikan DPR secara rutin dan paling tinggi diantara emiten lainnya yakni UNVR, dimana UNVR ini bahkan DPRnya sampai 100%.

 

  • Dividend Yield

Dasar pembagiannya ialah sebuah dividen per saham dibagi harga pasar saham.

 

Demikianlah penjelasan terlengkap mengenai √ Dividen : Pengertian, Syarat, Prosedur, Teori dan Jenis – Jenis Terlengkap. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan serta ilmu pengetahuan bagi yang membacanya. Terima Kasih.

 

Baca Juga Artikel :

Baca Juga :  √ Jenis Kredit : Berdasarkan Kegunaan, Waktu, Pemberian, Perekonomian & Jaminannya Lengkap

Baca Juga :  √ Rekonsiliasi Bank : Pengertian, Tujuan, Istilah, Proses dan Contoh Terlengkap

Baca Juga :  √ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) : Pengertian, Fungsi, Tugas, Wewenang dan Tujuan Terlengkap

Baca Juga :  √ Uang Giral : Pengertian, Jenis, Ciri, Proses dan Contoh Terlengkap